Langsung ke konten utama

Menyingkap Inti dari Ramadan: Tradisi Berbagi Takjil yang Tak Lekang oleh Waktu dalam Budaya Indonesia

      Menyingkap Inti dari Ramadan: Tradisi             Berbagi Takjil yang Tak Lekang oleh                Waktu dalam Budaya Indonesia

          Oleh : Nailin Najwa Nafisa Rahman.

Selama bulan Ramadhan 1445 H, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) membagikan sebanyak 3500 paket takjil makanan nasi box dan minum gratis kepada para mahasiswa. (Sumber: www.tvonenews.com)

Ramadan di Indonesia muncul sebagai sebuah mosaik yang penuh warna dari berbagai budaya dan tradisi, yang terjalin secara rumit ke dalam jalinan permadani budaya bangsa. Di antara tradisi-tradisi yang dihargai ini, kegiatan membagikan takjil - makanan ringan atau kurma untuk berbuka puasa - berdiri sebagai mercusuar solidaritas komunal dan penghormatan spiritual. Dalam penjelajahan ini, kita akan menelusuri berbagai makna, evolusi sejarah, dan signifikansi abadi dari praktik yang tak lekang oleh waktu ini.

Dari Asal Mula yang Sederhana hingga Menjadi Budaya:

Memulai pengembaraan sejarah, kami menggali akar takjil dalam hadis-hadis suci Nabi Muhammad, seperti yang dilestarikan oleh organisasi Muhammadiyah. Sebuah narasi muncul, mengungkapkan awal untuk berbagi takjil untuk mempercepat waktu berbuka puasa, di tengah-tengah latar belakang ritual komunal dan praktik tradisi yang berlaku. Namun, melalui upaya yang gigih dari Muhammadiyah, tradisi ini berkembang menjadi ciri khas Ramadan di Indonesia, yang melambangkan persatuan dan pengabdian kolektif.

Keutamaan Mendalam dari Kedermawanan:

Menyelami lebih dalam esensi dari berbagi takjil, kita akan menemukan sebuah dunia yang penuh dengan kedalaman spiritual. Mengambil wawasan dari wacana ilmiah, kami menemukan berbagai berkah yang diberikan kepada mereka yang mengambil bagian dalam tindakan mulia ini. Lebih dari sekadar rezeki, berbagi takjil menjadi sarana untuk meraih keridhoan Ilahi dan melipatgandakan amal saleh. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi katalisator untuk memupuk rasa kasih sayang dan tanggung jawab sosial, yang mewujudkan nilai-nilai tolong menolong dan sedekah. Melalui lensa silaturahmi, kami menyaksikan bagaimana tindakan kedermawanan ini menumbuhkan rasa saling memiliki dan solidaritas dalam masyarakat Indonesia.

Relevansi yang Abadi di Dunia yang Dinamis:

Ketika gelombang perubahan melanda lanskap masyarakat, kami berhenti sejenak untuk merenungkan relevansi berbagi takjil di masa kini. Dengan merefleksikan komentar-komentar yang mendalam, kami melihat keselarasan intrinsik antara tradisi kuno dan etos modernitas yang terus berkembang. Di tengah pergeseran paradigma, berbagi takjil muncul sebagai simbol kohesi sosial, kasih sayang, dan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip inti Islam. Resonansinya yang terus berlanjut menggarisbawahi peran pentingnya dalam memperkuat ikatan ukuwah dan menjunjung tinggi semangat Ramadan di dunia yang terus berubah.

Kesimpulan:

Kesimpulannya, berbagi takjil selama bulan Ramadan lebih dari sekadar rezeki kuliner, tetapi juga mengandung esensi keimanan, kasih sayang, dan solidaritas sosial. Menjelang bulan suci ini, marilah kita rangkul tradisi yang sangat berharga ini dengan hati yang terbuka dan tangan yang terulur, mengingat berkat yang mendalam yang diberikan kepada pemberi dan penerima. Dengan semangat Ramadan, mari kita bersatu dalam upaya kebaikan, kedermawanan, dan kemanusiaan yang tak lekang oleh waktu.



Referensi :

https://metro.tempo.co/read/1845862/narapidana-di-lapas-perempuan-kendari-ikuti-program-one-day-one-juz-selama-ramadan?tracking_page_direct https://www.gramedia.com/literasi/fadhilah-memberikan-takjil/

Postingan populer dari blog ini

Dilema Bersosial

  Dilema sosial   Media sosial dewasa ini menjadi sebuah medium yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita. Media sosial telah membentuk sebuah ruang bagi kita untuk menjalin sebuah interaksi semu antara kita, media pengekspresian diri, membentuk identitas diri, dan memahami dunia. Media sosial adalah salah satu wujud representasi dari kemajuan teknologi yang telah di kembangkan oleh umat manusia. Saat ini mudah melupakan fakta bahwa alat ini telah menciptakan hal-hal indah di dunia. Seperti mempertemukan orang yang telah lama berpisah, membantu menemukan donor organ, dll. Terdapat perubahan sistematik yang dihasilkan dari platform positif ini. Tapi kita terkadang terlalu naif dengan melupakan sisi lain koin ini. Kita bisa lihat di tempat-tempat berkumpul antara sanak family, teman atau semacamnya. Di tempat yang seharusnya kita dapat menjalin interaksi secara langsung antar individu tanpa dipisahkan oleh jarak, tetapi pemandangan yang kerap kita saksikan adalah setiap orang...

Setsubun

  節分 Tanggal 3 Februari di Jepang, Ada perayaan Setsubun yaitu perayaan pergantian Musim dingin ke Musim semi. Dalam hubungannya dengan Tahun Baru Imlek, Setsubun dianggap sebagai perayaan malam tahun baru yang disertai dengan ritual khusus untuk membersihkan dan mengusir roh jahat yang berasal dari tahun lalu. Ritual khusus ini disebut mamemaki yang artinya melempar kacang. Upacara melempar kacang umum yang dikenal sebagai mame maki dilakukan selama Setsubun dengan teriakan dan teriakan " oni wa soto! " (Keluar dari setan!) Dan " fuku wa uchi! " (Datang dalam kebahagiaan). Mamemaki biasanya dilakukan oleh toshiotoko yaitu sang kepala rumah tangga atau laki-laki yang shio nya sama dengan tahun baru kalender China. Meskipun demikian, sekarang ini malah lebih banyak anak-anak yang melempar kacangnya, sebagai simbol untuk mengusir roh jahat dari kehidupan mereka yang masih sangat panjang. Kacang yang dilempar adalah jenis kacang kedelai yang dipanggang (disebut j...

Jepang dan Paus

Apa yang akan terjadi jika tanpa paus? Akankah kehidupan laut mati? Berdampak buruk bagi lingkungan kita? Ada banyak pertanyaan tentang apa akibat dari ketiadaan paus. Orang-orang telah berburu paus sejak lama. Para peneliti mengatakan bahwa paus adalah rantai makanan, penting Untuk mamalia laut dan lingkungan. Perburuan paus dikenal dengan istilah Whaling . Aktivis anti perburuan paus diciptakan untuk melindungi paus dan menghentikan perburuan paus secara komersial. Aktivis anti perburuan paus telah melarang perburuan paus karena kekejaman, risiko kepunahan paus dan pentingnya paus bagi lingkungan. Pada tahun 2019 Jepang mengumumkan pengunduran dirinya dari International Whaling Commission , atau IWC, lembaga yang bertanggung jawab atas konservasi paus dunia. Jepang terdaftar sebagai anggota IWC sejak 1951. Tetapi, selama bertahun-tahun Jepang tetap memburu paus dengan alasan "untuk penelitian ilmiah". Tetapi Jepang juga menjual daging ikan paus, sebuah langkah yang dikritik...