Langsung ke konten utama

Sushi Terrorism

 Sushi Terrorism di Jepang Membuat Geram Banyak Orang

 Sushi merupakan makanan khas asal Jepang yang restorannya sudah tersebar dimana-mana. Namun, dunia perkulineran di Jepang saat ini sedang dihebohkan dengan serangkaian video sushi terrorism atau terorisme sushi yang terungkap dalam beberapa minggu ini.

 Video-video tersebut memperlihatkan remaja-remaja iseng yang berperilaku jorok di keitenzushi atau sushi yang disajikan dengan ban berjalan, kemudian video-video itu tersebar di sosial media dan membuat banyak warganet marah, mereka melakukan aksi tersebut hanya demi eksis di media sosial seperti Instagram dan Twitter.

 Dalam salah satu video memperlihatkan seorang remaja yang menjilat botol kecap, sendok, dan cangkir teh kemudian mereka tidak menggunakannya, melainkan di kembalikan ke tempatnya.

 Akibat hal ini restoran sushi Sushiro mengganti semua botol kecap dan semua cangkir sudah dibersihkan. Mereka juga mengumumkan kebijakan baru, yaitu pelanggan sekarang harus membawa peralatan dan bumbu dari tempat penyajian ke meja masing-masing. Pelanggan sekarang sudah bisa meminta peralatan yang sudah didisinfeksi.

 Beberapa restoran sushi seperti Kurazushi dan Hamazushi memasang di atas ban berjalan dan meja makan supaya bisa memantau setiap pelanggan.

 Karena kejadian ini banyak orang jadi takut untuk makan di restoran sushi, tapi tidak sedikit masyarakat yang memberikan dukungan terhadap restoran-restoran yang menjadi korban keisengan ini.

Postingan populer dari blog ini

Dilema Bersosial

  Dilema sosial   Media sosial dewasa ini menjadi sebuah medium yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita. Media sosial telah membentuk sebuah ruang bagi kita untuk menjalin sebuah interaksi semu antara kita, media pengekspresian diri, membentuk identitas diri, dan memahami dunia. Media sosial adalah salah satu wujud representasi dari kemajuan teknologi yang telah di kembangkan oleh umat manusia. Saat ini mudah melupakan fakta bahwa alat ini telah menciptakan hal-hal indah di dunia. Seperti mempertemukan orang yang telah lama berpisah, membantu menemukan donor organ, dll. Terdapat perubahan sistematik yang dihasilkan dari platform positif ini. Tapi kita terkadang terlalu naif dengan melupakan sisi lain koin ini. Kita bisa lihat di tempat-tempat berkumpul antara sanak family, teman atau semacamnya. Di tempat yang seharusnya kita dapat menjalin interaksi secara langsung antar individu tanpa dipisahkan oleh jarak, tetapi pemandangan yang kerap kita saksikan adalah setiap orang...

武田信玄祭り

  TAKEDA SHINGEN MATSURI        Takeda Shingen Matsuri, atau dalam bahasa indonesia Festival Takeda Shingen, adalah salah satu event atau perayaan terbesar di Jepang yang di gelar di perfektur Yamanashi. Festival ini biasanya di adakan di minggu pertama bulan april untuk mengenang warisan daimyo Takeda Shingen di Kofu, ibukota Yamanashi. Festival ini berlangsung selama 3 hari, pada hari jumat, sabtu, dan minggu. Festival ini mempunyai makna filosofi yang mendalam bagi masyarakat Yamanashi. Zaman dulu wilayah ini di kenal dengan nama Kai no kuni atau negeri Kai. Yang penguasanya adalah Takeda Shingen. Takeda Shingen adalah sosok samurai kuat pada zaman akhir sengoku . Ia terkenal akan keberaniannya yang membuat Takeda Shingen di kagumi oleh kawan maupun lawannya. Shingen memiliki persaingan legendaris dalam perebutan wilayah dengan Uesugi Kenshin dan mereka bertempur dalam lima pertempuran selama pertempuran Kawanakajima . Dalam festival ini kedahsyatan perte...

Festival Hana Matsuri

  Festival Hana Matsuri      Festival Hana Matsuri atau festival bunga  adalah tradisi memperingati kelahiran Buddha, yakni kelahiran Pangeran Siddartha Gautama. Ia adalalah putera mahkota dari Raja Suddohana dan Ratu Maya. Menurut legenda, Pangeran Siddartha lahir pada 8 April 566 SM di Taman Lumbini, Nepal. Kata “hana” sendiri, atau “o-hana”, berarti bunga. Sedangkan “Matsuri” aritnya adalah festival.      Dalam festival ini ada tradisi yang bernama  Kanbutsu-e. Ini adalah tradisi yang dibawa dari  Tiongkok. Festival ini pertama kali diselenggarakan pada tahun 606 di Nara, Jepang. Setiap perayaan Hana Matsuri, tradisi Kanbutsu-e selalu diadakan di setiap kuil. Orang Jepang akan menuangkan  ama-cha  (sejenis teh) atau  hydragea tea   di atas patung bayi Buddha yang dihiasi dengan bunga-bunga, seolah-olah seperti sedang memandikan bayi yang baru lahir. Patung Buddha kecil itu berada di dalam sebuah tempat bernama...